
KAYONG UTARA – Sebagai bentuk ikhtiar di tengah gelombang kemarau dan ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Polres Kayong Utara bersama Pemerintah Kabupaten Kayong Utara menggelar Sholat Istisqa dan Doa Bersama di halaman Mapolres Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kamis (13/8).
Kegiatan ini mengusung tema “Memohon Turunnya Hujan, Keberkahan, dan Keselamatan untuk Kabupaten Kayong Utara”. Agenda ini diikuti oleh jajaran personel kepolisian, pejabat pemerintah daerah, serta masyarakat setempat yang secara khusyuk memanjatkan doa agar musibah kemarau panjang segera berakhir.
Kapolres Kayong Utara, AKBP Adi Prabowo, mengatakan bahwa kegiatan ibadah ini merupakan ikhtiar batiniah dalam menghadapi kondisi darurat kekeringan serta karhutla yang melanda kawasan Kayong Utara.
“Polres Kayong Utara melaksanakan kegiatan Sholat Istisqa dan doa bersama memohon turunnya hujan. Yang kita tahu saat ini wilayah kita dilanda kekeringan, belum ada hujan, termasuk bencana kebakaran hutan. Untuk itu, sebagai usaha kita secara spiritual, kita memohon kepada Allah SWT untuk segera diturunkan hujan, sehingga bencana kekeringan dan kebakaran hutan yang melanda wilayah kita ini bisa teratasi,” ujar AKBP Adi Prabowo kepada awak media, Kamis (13/8).

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Kayong Utara, Amru Chanwari menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif Polres Kayong Utara yang menggalang sinergi spiritual tersebut. Ia menegaskan bahwa ikhtiar di lapangan telah dikerahkan secara maksimal, namun keterbatasan fasilitas dan personel membuat bantuan ilahi sangat diharapkan.
“Pertama-tama kami dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara mengucapkan terima kasih atas inisiatif Polres Kayong Utara. Ini adalah bagian dari ikhtiar setelah batas kemampuan kita sebagai manusia. Tempat akhir kita menyerahkan diri dan memohon pertolongan tentu kepada Allah SWT,” tuturnya.
Ia juga memaparkan kondisi memprihatinkan yang sedang dihadapi wilayahnya, di mana cuaca panas ekstrem telah memicu krisis air bersih dan karhutla skala besar.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Cuaca panas berkepanjangan membuat warga Sukadana dan sekitarnya kesulitan air bersih. Sampai hari ini, diperkirakan lebih dari 1.000 hektar lahan dan hutan terbakar di Kayong Utara. Daerah kita termasuk satu dari lima kabupaten rawan karhutla di Kalimantan Barat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penanganan fisik di lapangan kerap terkendala keterbatasan alat dan personel, sehingga hujan menjadi kunci utama untuk memadamkan titik api secara menyeluruh.
“Penanganan di lapangan tidak begitu signifikan karena keterbatasan personel dan peralatan. Semua permasalahan ini akan teratasi apabila hujan turun. Melalui doa bersama dan Sholat Istisqa ini, kami meyakini dengan turunnya hujan dari Allah SWT, segala permasalahan kekeringan dan karhutla di Kayong Utara dapat segera terselesaikan,” pungkasnya. (Sans)
