
KAYONG UTARA – Kredibilitas Yayasan Surya Gizi Lestari sebagai pengelola dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) berada di ujung tanduk. Setelah sempat disanksi akibat masalah limbah, dapur yang berlokasi di Desa Kamboja ini kembali memicu kemarahan publik setelah menyajikan makanan berulat kepada siswa SDN 13.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), ini bukan kali pertama dapur tersebut bermasalah. Sebelumnya, operasional mereka sempat dibekukan melalui surat nomor 1531/D.TWS/04/2026 karena gagal memenuhi:
Standar Instalasi Pengelolaan Limbah (IPAL) dan Standar Laik Higienis Sanitasi (SLHS).
Meski sempat beroperasi kembali setelah mengirimkan bukti perbaikan via video, temuan ulat dalam menu makanan siswa membuktikan adanya masalah sistemik dalam pengawasan kualitas mereka.

Kepala Regional BGN Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi kejadian berulang ini.
“Kami sudah melaporkan temuan ini ke Direktur Pemantauan dan Pengawasan. Operasional dipastikan akan dihentikan kembali,” ujar Agus, Sabtu malam (02/5/).
BGN juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya manipulasi laporan terkait perbaikan IPAL sebelumnya. Jika terbukti berbohong dalam laporan progres, sanksi yang dijatuhkan dipastikan bakal jauh lebih berat.
Selain masalah kualitas makanan, keberadaan dapur ini juga dikeluhkan oleh warga setempat terkait polusi lingkungan. Salah satu warga sekitar, Ujang, mengeluhkan bau limbah yang menyengat, terutama saat cuaca panas. Hal ini mengindikasikan proses pengolahan limbah yang belum optimal.
Para orang tua murid SDN 13 mendesak pemerintah untuk segera mengganti pihak pengelola. Mereka khawatir kesehatan anak-anak terancam jika distribusi makanan masih ditangani oleh yayasan yang sama.
Hingga saat ini, warga dan pihak sekolah menunggu keputusan resmi terkait penghentian total aktivitas dapur tersebut guna mencegah risiko keracunan massal di masa mendatang. (Red)
