
“Kami datang membawa program, tapi yang kami bawa pulang justru kehidupan.”
Desember di perairan selatan Laut Natuna membawa angin musim barat yang mengantar tujuh anak muda menuju sebuah pulau kecil di Kayong Utara, Kalimantan Barat. Perjalanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan oleh PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Sebagian dari mereka belum genap berusia 25 tahun, datang dengan gelar sarjana dan keyakinan bahwa sebaik-baiknya ilmu bukanlah yang tersimpan dalam lembar skripsi, melainkan yang hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Lulus dari salah satu kampus ternama di Indonesia membuat ketujuh pemuda ini punya banyak pilihan karir. Salah satunya bekerja di gedung perkantoran tinggi di kota-kota besar, dengan segala fasilitas dan peluang karir yang menjanjikan. Namun mereka justru memilih meninggalkan kenyamanan kota untuk bergabung dalam tim CSR PT DIB dan mengabdi bagi masyarakat di Pulau Pelapis.
“Saya merasa ilmu yang saya pelajari tidak akan berarti kalau hanya berhenti di ruang kelas. Ketika ada kesempatan terjun langsung ke masyarakat, saya merasa inilah tempat yang tepat untuk belajar sekaligus mengabdi” ujar Adam (23), salah satu tim CSR PT Dharma Inti Bersama (DIB) yang fokus pada pemberdayaan hasil tangkap nelayan.
Bagi mereka yang berasal dari luar provinsi Kalimantan Barat, Pulau Pelapis adalah dunia yang sama sekali baru. Dunia yang mengajarkan bahwa Indonesia tidak hanya didefinisikan lewat infrastruktur megah ala ibu kota, namun juga ada pulau-pulau kecil dan terluar di dalamnya yang bertahan dalam kesederhanaan serta jauh dari hiruk pikuk pembangunan.
Pada awalnya, mereka datang sebagai orang asing. Bahasa menjadi sekat pertama yang harus dilalui, terutama bagi mereka yang berasal dari Pulau Jawa. Dialek Melayu Kayong bagi telinga Alhan Mubarak –staf CSR bidang infrastruktur desa– terdengar begitu cepat, sehingga setiap percakapan terasa seperti teka-teki. Namun sekat itu perlahan runtuh mengingat penerimaan sosial masyarakat Pulau Pelapis terhadap orang baru cukup tinggi.

“Masyarakat disini sangat pengertian terhadap kami yang sebagai pendatang belum paham bahasa mereka. Ketika kami bertanya, mereka menjelaskan dengan sabar, bahkan berkali-kali. Intinya, mereka banyak membantu kami untuk beradaptasi di lingkungan yang baru ini” ujar Alhan.
Tak semua anak muda berani menukar kenyamanan dengan pengabdian. Sebab memilih Pulau Pelapis berarti bersedia hidup jauh dari keluarga, meninggalkan ritme kota, menghadapi penolakan, lalu memulai semuanya dari nol. Namun justru dari tempat yang jauh dari gemerlap kota itu lah mereka menemukan sesuatu yang tak diajarkan di bangku kuliah, bahwa perubahan selalu dimulai dari hubungan antarmanusia. Setelah kepercayaan tumbuh, barulah program-program pemberdayaan menemukan jalannya.
Pemberdayaan masyarakat pesisir melalui inovasi perikanan dan ekonomi lokal
Adam Rinova, lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, melihat potensi yang selama ini tersembunyi di balik kehidupan masyarakat pesisir. Bersama kelompok ibu-ibu, ia mengembangkan diversifikasi hasil perikanan menjadi bakso dan nugget ikan. Hasilnya tidak sekadar menjadi produk olahan, tetapi membuka sumber penghasilan baru yang perlahan mengubah cara pandang masyarakat.

“Awalnya ibu-ibu menganggap ini hanya janji. Tapi setelah beberapa orang berhasil mendapatkan tambahan penghasilan, yang lain mulai ikut” ujar Adam.
Produk-produk olahan tersebut kini tidak lagi dipasarkan secara terbatas di lingkungan desa. Dengan dukungan perusahaan, bakso dan nugget ikan hasil produksi warga dipasok untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Kehadiran pasar yang lebih pasti memberi ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga. Bagi banyak keluarga nelayan, nilai tambah dari hasil olahan inilah yang mengubah ikan dari sekadar hasil tangkapan harian menjadi komoditas bernilai ekonomi yang mampu menciptakan pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Serupa dengan Adam, Teguh Arisandi (32) datang dengan membawa ilmu budidaya ikan air tawar ke sebuah desa yang seluruh warganya hidup sebagai nelayan. Banyak yang menolak, sebab budidaya ikan air tawar seperti ikan lele terdengar tidak lazim di kalangan nelayan. Namun Teguh tak patah semangat, sebab ia paham betul, dalam ilmu yang ia pelajari, ketergantungan penuh pada hasil tangkapan laut membuat penghasilan warga sangat rentan terhadap musim, cuaca, dan gelombang.
Apa yang diperkirakan oleh Teguh pun akhirnya menjadi kenyataan. Ketika angin musim selatan datang dan gelombang tinggi memaksa perahu-perahu tetap bersandar di bibir pantai, kolam-kolam lele justru menjadi penopang kehidupan. Apa yang semula dianggap sebagai gagasan yang asing perlahan membuktikan manfaatnya.
Kini, budidaya lele menjadi sumber alternatif pendapatantambahan ketika musim paceklik datang dan nelayan tidak dapat melaut. Lebih dari itu, hasil panen lele tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga diolah menjadi produk marinasi bernilai tambah yang memiliki daya simpan lebih panjang dan nilai jual yang lebih tinggi. Sama dengan produk olahan bakso dan nugget, produk-produk ini disuplai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) dan membuka pasar yang lebih pasti bagi masyarakat.

Kepastian pasar ini memberi rasa aman bagi warga untuk terus membudidayakan lele, dan memproduksi olahan ikan berupa bakso dan nugget yang dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh di tengah ketidakpastian musim.
“Jadi memang nelayan di sini itu ada musim di mana mereka sulit untuk melaut. Nah, itu salah satu program budidaya itu memang memberikan tambahan. Bukan sebagai pemasukan utama ya, tapi tambahan ketika mereka memasuki musim paceklik” kenang Teguh
Di sisi lain, Otsa memilih kembali ke laut. Sebagai lulusan Perikanan Tangkap, ia mendampingi nelayan melalui berbagai inovasi, mulai dari lampu celup bawah air, bantuan alat tangkap, hingga rencana pembangunan rumpon. Baginya, laut tidak hanya harus menghasilkan ikan hari ini, tetapi juga tetap produktif bagi generasi berikutnya.

Sementara Alhan melihat perubahan dari sudut yang berbeda, ketika Teguh mengajaknya melihat sekolah-sekolah di Pelapis. Bangunannya sederhana, sebagian bahkan rusak. Namun anak-anak datang dengan segala keterbatasan, dan mereka tetap tersenyum.
“Itu yang mengubah cara saya melihat pekerjaan. Saya sadar, kami bukan hanya mengejar angka atau target, tapi ikut membangun masa depan desa” tandasnya.
Kesadaran yang sama juga dirasakan Ahmad JinedineMahardika (24). Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, ia datang dengan bayangan bahwa CSR adalah pekerjaan administratif yang dekat dengan masyarakat. Namun ia justru menemukan kehidupan yang menuntut lebih dari sekadar kompetensi. Ia harus belajar hidup tanpa listrik selama 24 jam. Menghadapi ombak besar. Beradaptasi dengan budaya baru. Bahkan menghadapi penolakan masyarakat. Namun ada satu hal yang membuatnya tetap bertahan.
“Saya merasa belum puas kalau belum memberikan dampak” kata Dika.

Kalimat itu sederhana, tetapi menjelaskan alasan mengapa mereka memilih tetap tinggal ketika banyak orang mungkin sudah menyerah.
Setiap malam mereka berkumpul, mengevaluasi program, membahas persoalan di lapangan, bercanda, saling menguatkan, lalu kembali tertawa. Esok paginya mereka kembali menyusuri kampung, mengetuk pintu rumah warga, dan memulai semuanya lagi.
Semangat pengabdian itulah yang terus dijaga oleh Tim CSR PT Dharma Inti Bersama (DIB), bahwa setiap langkah pembangunan harus terus berjalan beriringan dengan tumbuhnya kehidupan masyarakat di sekitarnya. Mereka meyakini bahwa investasi terbaik bukan hanya yang melahirkan bangunan dan kawasan industri, melainkan yang menghadirkan kesempatan, harapan, serta kemandirian bagi mereka yang tinggal di tanah ini. Karena pada akhirnya, sebuah pembangunan baru benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mengubah masa depan manusia. (Red)
